Kajian Cerpen "Kak Ros" karya Gus T. F. Sakai menggunakan Pendekatan Struktural dan Pendekatan Psikologi Sastra
Kajian Prosa Fiksi Indonesia
Mengkaji Cerpen “Kak Ros” karya Gus T. F. Sakai menggunakan pendekatan Struktural dan Pendekatan Psikologi Sastra
Nama : Novita Permai Sari Hutasoit
NIM : 1005105
Pendekatan Struktural Todorov memiliki tiga aspek, yaitu Aspek Sintaksis, Aspek Semantik, dan Aspek Verbal atau Pragmatik. Aspek Sintaksis meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis, khusus dalam alur, Aspek Semantik meneliti tokoh dan latar, dan Aspek Verbal meneliti gaya penceritaannya.
A. Sintaksis
a. Alur (fungsi utama)
F1= Aku sedang memperhatikan Kak Ros yang tampaknya sedang berbicara kepada daun juga tampak sedang mengusap-usap daun dengan sangat lembut
F2= Ben datang mengagetkan Aku (paman Ben) yang sedang memperhatikan Kak Ros
F3= Ben menggoda Aku yang sedang memperhatikan Kak Ros
F4= Aku kembali mengingat cerita Ben tentang Kak Ros
F5= Ben bercerita bahwa Kak Ros sangat lembut memperlakukan daun dan seperti bisa bisa dengan daun:
F6= Aku membantah pernyataan Ben tentang Kak Ros dengan memberikan filosofi tentang daun
F7= Aku turun dari kamar dan bertemu Kak ros
F8= Aku memperhatikan Kak Ros lebih lagi
F9= Tiba-tiba Kak Ros menoleh ke Aku. Mereka bersitatap
F10= Aku pergi mengikuti seminar
F11= Saat seminar, Aku terus memikirkan kelembutan Kak Ros dan arti sorotan mata Kak Ros
F12= Saat istirahat sore, Aku tenggelam dalam obrolan dengan kenalan barunya tentang daun Papaitan
F13= Aku sangat ingin tahu nama Indonesia dari daun Papaitan. Kenalan barunya itu sangat heran mengapa Aku begitu peduli dengan daun
F14= Tiba-tiba bayangan Kak Ros kembali muncul
F15= Selesai seminar, Aku cepat-cepat pulang. Ia ingin melihat Kak Ros
F16= Sesaat setelah sampai, Aku langsung melihat Kak Ros yang sedang berada di taman
F17= Kak Ros tampak menunduk dan menatap rimbunan daun di kaki. Aku ikut memperhatikan rimbunan daun itu. Ternyata ada beberapa batang yang patah
F18= Saat ingin melanjutkan langkah, Kak Ros menoleh ke arahnya. Mereka bersitatap. Aku kembali menatap matanya
F19= Keesokan harinya, Aku pergi mengikuti seminar hari terakhir
F20= Kenalan barunya kemarin, memperlihatkan wujud daun Papaitan. Tapi, tetap saja mereka tetap tidak tahu apa nama Indonesia, padahal mereka sudah bertanya kemanapun
F21= Mereka berkeliling untuk mencari tahu nama daun itu. Mereka kembali ke seminar saat hampir selesai acara seminar
F22= Aku kembali pulang lebih dulu seperti kemarin. Ia ingin cepat-cepat bertanya kepada Kak Ros tentang daun Papaitan
F23= Aku melihat Kak Ros tidak berada di taman seperti biasanya.
F24= Aku mendengar suara lengkingan yang aneh dan suara pukulan yang beruntun dari teras samping
F25= Aku menghampiri suara itu. Ia melihat kepala seekor kucing yang hampir gepeng dan Kak Ros yang sedang memegang sebongkah batu besar
F26= Kak Ros menyadari kehadiran Aku. Dan kembali menatap Aku.
F27= Sekarang Aku tahu bahwa tatapan Kak Ros bukanlah tatapan lembut dan tenang. Melainkan sebuah tatapan yang dingin
b. Analisis Fungsi Utama
F1 ← F4 ← F5 ← F6
F2 ← F3
F7 ← F8 ← F9
F10 ← F11 ← F12← F13 ← F14 ← F15 ← F16 ← F17 ← F18 ← F19
F20 ← F21 ← F22 ← F23 ← F24 ← F25 ← F26 ← F27
c. Analisis Pengaluran (Sekuen)
S1= Aku memperhatikan Kak Ros yang sedang menunduk dan tampak sedang berbicara dengan daun
S2= Ben datang mengejutkan Aku dan menggoda Aku yang sedang memperhatikan Kak Ros
S3= Aku mengingat kembali cerita Ben tentang Kak Ros. Ben bercerita bahwa Kak Ros sering terlihat seperti sedang berbicara dengan daun
S4= Aku membantah pernyataan Ben tentang Kak Ros dengan filosofi tentang daun
S5= Aku turun dari kamar. Aku bertemu dengan Kak Ros. Mereka saling bertatapan dan saling bertukar senyum
S6= Aku pergi mengikuti seminar. Tetapi, ia tidak bisa konsentrasi mendengarkan pemakalah karena memikirkan arti tatapan Kak Ros yang membingungkan
S7= Saat istirahat sore, Aku tenggelam dalam obrolan tentang daun Papaitan dengan kenalan barunya. Ia begitu ingin tahu nama Indonesia dari daun itu
S8= Secara tiba-tiba bayangan Kak Ros muncul dibenaknya lagi hingga seminar itu selesai.
S9= Aku pulang lebih awal karena Ia ingin menemui Kak Ros. Sampai di rumah, Aku melihat Kak Ros sedang menunduk memperhatikan rimbunan daun di bawah kakinya. Aku ikut memperhatikan ke arah yang sama. Dan ternyata ada batang yang patah. Kak Ros menyadari kehadiran Aku kemudian menatap Aku. Aku melihat tatapan yang mempunyai arti lain.
S10= Keesokan harinya, kenalan baru Aku bersedia memperlihatkan wujud daun Papaitan. Kemudian mereka meninggalkan seminar untuk mencari tahu nama Indonesia dari daun itu. Tetapi, mereka tidak menemukan apa nama daun itu. Mereka kembali ke tempat seminar saat seminar hampir selesai.
S11= Selesai seminar, Aku langsung pulang ke rumah. Berniat menanyakan tentang daun itu ke Kak Ros. Ia mencari-cari Kak Ros. Saat Ia ingin melangkah, Ia mendengar suara lengkingan dan suara pukulan yang beruntun. Ia menghampiri suara itu. Ia sangat terkejut saat melihat kepala kucing yang hampir gepeng dan Kak Ros yang sedang memegang sebongkah batu besar.
S12= Sekarang, Aku tahu arti tatapan Kak Ros. Bukan tatapan lembut dan diam. Melainkan tatapan dingin.
d. Analisis Pengaluran
Aku memperhatikan Kak Ros yang sedang menunduk dan tampak sedang berbicara dengan daun. Ben datang mengejutkan Aku dan menggoda Aku yang sedang memperhatikan Kak Ros. Aku mengingat kembali cerita Ben tentang Kak Ros. Ben bercerita bahwa Kak Ros sering terlihat seperti sedang berbicara dengan daun. Aku membantah pernyataan Ben tentang Kak Ros dengan filosofi tentang daun. Aku turun dari kamar.
Aku bertemu dengan Kak Ros. Mereka saling bertatapan dan saling bertukar senyum. Aku pergi mengikuti seminar. Tetapi, ia tidak bisa konsentrasi mendengarkan pemakalah karena memikirkan arti tatapan Kak Ros yang membingungkan. Saat istirahat sore, Aku tenggelam dalam obrolan tentang daun Papaitan dengan kenalan barunya. Ia begitu ingin tahu nama Indonesia dari daun itu. Secara tiba-tiba bayangan Kak Ros muncul dibenaknya lagi hingga seminar itu selesai.
Aku pulang lebih awal karena Ia ingin menemui Kak Ros. Sampai di rumah, Aku melihat Kak Ros sedang menunduk memperhatikan rimbunan daun di bawah kakinya. Aku ikut memperhatikan ke arah yang sama. Dan ternyata ada batang yang patah. Kak Ros menyadari kehadiran Aku kemudian menatap Aku. Aku melihat tatapan yang mempunyai arti lain.
Keesokan harinya, kenalan baru Aku bersedia memperlihatkan wujud daun Papaitan. Kemudian mereka meninggalkan seminar untuk mencari tahu nama Indonesia dari daun itu. Tetapi, mereka tidak menemukan apa nama daun itu. Mereka kembali ke tempat seminar saat seminar hampir selesai.
Selesai seminar, Aku langsung pulang ke rumah. Berniat menanyakan tentang daun itu ke Kak Ros. Ia mencari-cari Kak Ros. Saat Ia ingin melangkah, Ia mendengar suara lengkingan dan suara pukulan yang beruntun. Ia menghampiri suara itu. Ia sangat terkejut saat melihat kepala kucing yang hampir gepeng dan Kak Ros yang sedang memegang sebongkah batu besar. Sekarang, Aku tahu arti tatapan Kak Ros. Bukan tatapan lembut dan diam. Melainkan tatapan dingin.
e. Bagan alur cerpen Mak Tuo dan Kurir Kampung
○
S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12
B. Semantik
a. Tokoh
1. Kak Ros
Kak Ros berwatak lembut: ”Tangan Kak Ros bergerak lembut, menyentuh, mengusap daun-daun. Tangan yang lain, dengan tak kalah hati-hati, menyemprotkan air dari botol sprayer sedemikian rupa, hingga tampak seperti seorang ibu yang memandikan dan mengeramas rambut anaknya”; cinta tanaman; dan pendendam: ”Kucing. Kucing itu lagi. Telah beberapa kali ia mematahkan daun-daunku”. Pengarang menggambarkan tokoh kak Ros menggunakan metode dramatik, yaitu metode penyampaian watak tokoh melalui dialog tokoh dan penggambaran oleh tokoh lain. Tokoh kak Ros berdasarkan klasifikasi tokoh:
2. Aku.
Tokoh Aku mempunyai sifat cinta akan tanaman: “Bahwa aku, telah tiga tahun ini, juga menanam dan memelihara banyak tanaman. Menyukai dan menyenangi dan menyayangi bermacam daun.”, teoritis: “Daunlah yang membongkar molekul air, menghasilkan oksigen yang dilepas ke udara. Daunlah makhluk yang bisa memasak makanan sendiri. Dan karenanya, tahukah kau, kalori yang mengalir dari satu mata rantai ke mata rantai lain itu sesungguhnya berawal dari daun?”; dan penyayang. Pengarang menggambarkan watak tokoh Aku melalui dialog-dialog tokoh Aku (metode dramatik). Tokoh Aku berdasarkan klasifikasi tokoh:
3. Ben
Tokoh ketiga, yaitu Ben, keponakan si Aku yang juga anak kost di tempat kak Ros. Ben memiliki sifat senang bercanda: ”’Naa,’ tepukan halus di pundak mengejutkanku, ‘Om memerhatikannya.’ Ben yang rupanya juga telah keluar dari kamar, berdiri di sampingku”. Tokoh Ben juga digambarkan wataknya oleh pengarang menggunakan metode dramatik. Tokoh Ben berdasarkan klasifikasi tokoh:
4. Tokoh yang keempat adalah seekor kucing. Disini kucing berwatak sebagai perusak. Kucing ini selalu merusak daun kepunyaan kak Ros. Tapi, di akhir cerita, kucing ini mempunyai nasib yang kurang baik. Kucing itu dibunuh oleh kak Ros.
5. Tokoh yang terakhir adalah Teman si Aku. Aku hanyalah tokoh tambahan. Yang muncul sebagai pengenal satu jenis daun yang bermanfaat, yaitu daun papaitan.
b. Latar
Latar yang digunakan dalam cerita:
1. Latar fisik:
a. Latar tempat:
Kamar : “begitu keluar dari kamar dan tak sengaja menatapke taman itu, aku terpaku”
Taman : “masih di balik pagar, saat kulihat sosok Kak Ros di taman. Ya, aku tahu, perempuan itu akan kembali ada di taman pada sore jam-jam segini. Tetapi, saat aku sudah membuka pintu pagar dan sudah pula melangkah ke dalam, sosok Kak Ros bergeming. Ia tetap dalam posisi itu: menunduk, seperti terpaku, menatap ke rimbun daun suruhan di ujung kakinya. Merasa heran, mataku ikut memerhatikan apa yang ia tatap. Tak ada yang aneh pada rimbun daun suruhan itu. Eh, ada. Beberapa batangnya yang lunak tampak seperti patah. Mungkin aku ikut tertegun. Sejenak. Saat aku akan meneruskan langkah, ia baru sadar akan kehadiranku dan mengangkat wajah.”
Ruang seminar : “sampai di ruang seminar, di lantai empat sebuah hotel, aku tak bisa fokus pada topik yang disampaikan pemakalah.”
Teras : “akan kulangkahkan kaki menaiki teras”
b. Latar waktu
Pagi : seminar diadakan pagi hari
Siang : “sampai istirahat siang, sampai kemudian masuk lagi, masih juga pikiranku ke mata itu.”
Sore : “ya, aku tahu, perempuan itu akan kembali ada di taman pada sore jam-jam segini.”
2. Latar Sosial, profesi si Aku membuatnya smemberikan pengertian yang sangat mendalam terhadap daun: ”Daunlah yang membongkar molekul air, menghasilkan oksigen yang dilepas ke udara. Daunlah makhluk yang bisa memasak makanan sendiri. Dan karenanya, tahukah kau, kalori yang mengalir dari satu mata rantai ke mata rantai lain itu sesungguhnya berawal dari daun?”
C. Pragmatik
a. Modus
Cerita dalam cerpen ini sebagian besar berbentuk narasi atau yang diceritakan, sehingga efek yang ditimbulkan dari yang cerpen ini adalah tingkat kepahaman pada pembaca yang jelas karena pada umumnya yang diceritakan akan lebih jelas dan tuntas dalam penceritaannya, meskipun dialog ada, tetapi sebagian besar cerpen ini menceritakan peristiwa lewat yang dinarasikan. Sedangkan kadang-kadang apabila hanya dengan dialog keterpahaman pembaca terhadap cerita akan sulit, karena dialog tidak semua menjelaskan peristiwa yang terjadi dalam cerita.
b. Kala
Cerita atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini digambarkan dalam keadaan yang tenang dan sangat santai. Hanya saja, di akhir cerita keadaan menjadi sedikit menyeramkan oleh adegan pembunuhan kucing.
Ø PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA
Psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia. Lewat tinjauan psikologi akan nampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling sedikit untuk memancarkan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia (Andre Hardjana, 1985:66).
Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian, yaitu
(1) Studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pembeda,
(2) Studi proses kreatif,
(3) Studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan
(4) Studi yang mempelajari dampak sastra pada pembaca atau psikologi pembaca (Wellek, Rene dan Austin Warren, 1989:90).
Menurut teori Big Five milik McCrae dan Costa, kepribadian tokoh Kak Ros termasuk ke dalam kepribadian agreeableness yaitu orang yang cenderung dingin, konfrontatif dan kejam.
Terlihat di akhir cerita:
Bergegas aku pulang. Dan karena ini jam-jam yang lebih kurang sama dengan saat aku pulang kemarin, kukira aku juga bakal segera menemukan Kak Ros di taman itu. Tetapi, ternyata tidak. Kulayangkan pandang ke atas rumah. Juga seperti kosong. Akan kulangkahkan kaki menaiki teras, menuju pintu depan, saat kudengar lengking suara kucing dari halaman samping.
Lengking yang aneh. Seperti gerung ngeong keras, lalu tiba-tiba terhenti. Ada pula suara seperti pukulan (atau tumbukan?) beruntun, lalu satu-satu.
Segera aku bergerak, melangkah ke situ. Dan oh, betapa aku terkejut. Di situ, di bawah teras halaman samping, pemandangan itu menyambutku.
Kepala seekor kucing, nyaris gepeng, menjulur dari karung goni. Kedua tangan Kak Ros terangkat, memegang sebongkah batu besar, siap diempaskan kembali ke kepala si kucing.
Tangan itu terhenti.
Kak Ros menatapku.
Mata itu. Mata itu. Baru aku tahu. Bukan lembut bukan tenang, tetapi dingin. Sangat dingin. Membuatku kini menggigil.
Comments
Post a Comment