ANALISIS SOSIOLOGI SASTRA NASKAH DRAMA “BARABAH” KARYA MOTINGGO BUSYE[1]
Oleh :
Novita Permai Sari Hutasoit[2]
ABSTRAK. Pada dasarnya setiap karya sastra yang tercipta berisi kondisi sosial yang ada di masyarakat. Karya sastra yang lahir di tengah-tengah masyarakat merupakan hasil imajinasi pengarang yang sering mengangkat kehidupan sosial pengarang tersebut. Drama, misalnya, pembaca sering menemukan kejadian sosial yang sangat sering terdapat dalam kehidupan nyata. Karena memang, drama merupakan tiruan kehidupan nyata yang direflesikan ke atas panggung. Kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kehidupan sosial tersebut dapat dikaji dengan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra bertujuan untuk memahami bahwa setiap kehidupan sosial yang terdapat dalam cerita rekaan di karya sastra tidak selalu berbeda dengan kehidupan nyata pembaca karya sastra tersebut..
Kata kunci: Karya sastra, drama, pendekatan sosiologi sastra
Pendahuluan
Kata sastra dalam bahasa Indonesia biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Dan menurut isinya dan prosesnya sastra merupakan pencerminan dari kehidupan manusia. Menurut KBBI, sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Sastra adalah hasil kegiatan kreatif manusia dalam mengungkapkan penghayatannya dengan menggunakan bahasa. Kesusastraan dilahirkan oleh manusia tumbuh dan berkembang dalam kehidupan manusia. Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah kegiatan karya seni (Wellek : 3). Dan menurut proses terbentuknya karya sastra, berkat si pencipta mempunyai daya cipta, daya rasa, dan daya karsa, yang terus berlangsung di dalam kehidupannya. Maka sastra merupakan representsi dari kehidupan itu sendiri
Untuk mengekspresikan sesuatu dalam sastra tentu menggunakan beragam bentuk, dan salah satunya adalah dengan bahasa. Drama termasuk salah satu bentuk karya sastra dalam wujud bahasa. Drama termasuk dalam salah satu kategori sastra, diartikan dalam KBBI, yaitu komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) yang dipentaskan. Karya sastra memiliki beberapa genre. Salah satunya adalah drama. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan aksi di hadapan penonton (audience).
Dan berkaitan dengan usaha untuk memahami karya sastra (drama), terdapat istilah kajian drama. Kajian drama yaitu upaya untuk memperoleh pemahaman dari drama. Terdapat banyak pendekatan dan teori yang digunakan untuk memahami karya sastra, dalam hal ini drama. Salah satunya adalah kajian sosiologi sastra.
Salah satu pengarang yang menampilkan permasalahan sosial adalah Motinggo Busye. Seperti yang telah diketahui, Motinggo Busye adalah seorang pengarang yang banyak menulis novel dan drama. Beberapa hasil karyanya antara lain, Nyonya dan Nyonya (drama, 1963), Sejuta Matahari (novel, 1963), Nasehat buat Anakku (kumpulan cerpen, 1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (drama, 1963), Dia Musuh Keluarga (novel, 1968), Sanu, Infita Kembar (novel, 1985), Madu Prahara (novel, 1985), Dosa Kita Semua (novel, 1986), dan masih banyak lagi karyanya yang lain.
Motinggo Busye, yang bernama asli Bustami Djalid (lahir di Kupang kota, Bandar Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999 pada umur 61 tahun), adalah seorang sutradara dan seniman Indonesia. Awal karier Motinggo dalam dunia tulis menulis, dimulai ketika perwira Jepang Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabat Motinggo untuk mencurahkan ide-idenya. Selain itu, persentuhannya dengan buku-buku sastra Balai Pustaka, telah menumbuhkan minatnya untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama Bagian Kesenian Departemen P & K tahun 1958 dan cerpennya, "Nasehat buat Anakku", mendapat hadiah majalah Sastra tahun 1962. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain Bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990). Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan kongres di Washington, D. C. Beliau juga pernah menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.
Dalam salah satu karyanya berupa naskah drama “Barabah” misalnya, Motinggo Busye mengangkat sebuah cerita melalui naskah dramanya tersebut, dengan memadupadankan kejadian sosial yang pernah terjadi, dan bahkan masih terjadi sampai saat ini, di masyarakat yaitu peristiwa kawin-cerai. Peristiwa tersebut sampai sekarang masih saja marak diperbincangkan oleh masyarakat luas. Dari kalangan atas, sampai kalangan bawah, dari kalangan biasa, sampai kalangan orang terkenal (artis) pun ternyata tidak sedikit yang pernah melakukan tindakan kawin-cerai. Hal tersebut sangat menarik untuk dikaji lebih dalam, tentunya dengan menggunakan suatu pendekatan. Pendekatan yang dirasa tepat yaitu dengan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan tersebut dapat membantu mengungkap hubungan antara karya sastra dengan kejadian atau peristiwa sosial yang terjadi di masyarakat.
Kajian Pustaka
Sosiologi sastra adalah pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya (Ratna, 2003: 3). Sosiologi sastra diterapkan dalam penelitian ini karena tujuan dari sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan, dalam hal ini karya sastra dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya dan karya sastra bukan semata-mata merupakan gejala individual tetapi gejala sosial (Ratna, 2003: 11).
Di antara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan novel, genre dramalah yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan, di antaranya: a) drama menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyarakatan yang paling luas, b) bahasa dalam drama cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa drama merupakan genre yang paling sosiologis dan responsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris (Ratna, 2007: 335-336).
Kajian Sosiologi Sastra pada Naskah Drama “Barabah” Karya Motinggo Busye
Menurut Ian Watt sastra yang berusaha menampilkan keadaan masyarakat yang secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa diperdaya atau tidak bisa diterima sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipercaya sebagai bahan untuk pengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus dipertimbangkan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat. (Damono, 1978:3).
Dalam naskah drama “Barabah” karya Motinggo Busye, tergambar secara jelas mengenai kehidupan sosial, terutama dalam hal ini yang paling disoroti yaitu peristiwa nikah-cerai yang memang marak diperbincangkan di masyarakat luas, tidak hanya dari masyarakat kalangan atas, kalangan bawah pun tercatat pernah mengalami peristiwa nikah-cerai lebih dari tiga kali banyaknya. Dalam naskah diceritakan mengenai kehidupan seorang lelaki tua yang sudah beberapa kali mengalami pernikahan sekaligus perceraian. Bahkan bukan hanya tiga atau empat kali, tapi sampai belasan kali seorang tokoh dalam naskah diceritakan mengalami peristiwa nikah-cerai, meskipun pada akhirnya peristiwa tersebut tidak terjadi lagi setelah lelaki tua (Banio), mendapatkan seorang istri yang kedua belas, yang dia rasa, istrinya kedua belasnya tersebut merupakan istri yang terbaik dan terkhirnya.
Cerita dalam naskah tersebut ternyata terjadi juga pada kehidupan sosial di masyarakat. Peristiwa nikah-cerai yang memang sudah menjadi hal biasa, di kalangan masyarakat terutama, orang-orang terkenal (artis), yang sering mengalami nikah-cerai dengan pasangannya. Dalam hal ini, tokoh Banio yang menjadi sorotan dalam cerita yang menceritakan mengenai pengalaman hidup Banio yang telah menikah sebanyak dua belas kali seumur hidupnya dan mengalami perceraian sebanyak sebelas kali. Hal tersebut tampak pada kutipan dialog berikut.
BANIO : O ya, Abidul, Abidul. Aku punya kenang-kenangan yang buruk, Abidul. Aku telah sebelas kali bercerai.
ABIDUL : Saya sudah dengar.
Dalam kehidupan sebenarnya di masyarakat, peristiwa kawin-cerai tersebut memang pernah terjadi, bahkan sampai sekarang pun masih terjadi. Persitiwa tersebut biasanya sering dialami oleh para kaum yang berharta (kapitalis), dalam kehidupan sosialnya, kaum kapitalis cenderung dengan mudah mendapatkan yang dia mau. Hal tersebut tak lain karena harta yang dimilikinya. Termasuk untuk sekadar menikah, kemudia bercerai, menikah lagi dan bercerai lagi, dan seterusnya, sampai pada sesuatu yang diinginkan.
Dalam naskah diceritakan pula mengenai sebab dari kawin-cerai yang dialami oleh Banio sampai suatu ketika mendapat sesuatu yang dia inginkan. Dalam naskah diceritakan mengenai kehidupan Banio terdahulu bersama istri-istrinya sebelum pada istrinya yang terakhir bernama Barabah. Banio merasa tidak nyaman dengan prilaku-prilaku para istrinya terdahulu yang mengecewakan Banio. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.
BANIO : (SAMBIL MEMIJIT-MIJIT KEPALANYA) Kau ingat nama istriku yang ketiga?
BARABAH : Bapak sendiri dulu yang bilang bahwa bapak lupa nama istrinya yang ketiga.
BANIO : Oh ya, aku lupa, yang keempat juga aku lupa. Tapi yang kelima tidak!
BARABAH : (DENGAN SUARA DITEKANKAN) Yang main gila dengan laki-laki itu.
BANIO : Ya, ya, perempuan memang berbahaya, Barabah. Ia berbahaya jika membutuhkan lebih dari seorang laki-laki untuk kepuasannya.
Dalam kutipan dialog tersebut tergambar mengenai pengalaman pahitnya bersama istrinya terdahulu, yang mengecewakannya, oleh karean itu Banio memutuskan untuk menceraikan istrinya tersebut dan menikah lagi. Hal tersebut ternyata tidak jauh beda dengan sebab atau alasan yang terjadi di masyarakat jika ditanya mengapa nikah-cerai dapat terjadi? Pasti ada sebab yang melatar belakanginya.
Masyarakat yang mengalami nikah-cerai cenderung memiliki sebuah masalah yang sangat rumit, sehingga nikah-cerai dapat dengan mudah terjadi. Berbagai masalah bisa menjadi sebab terjadinya perceraian dalam suatu kehidupan rumah tangga. Dan hasrat ingin membangun rumah tangga kembali juga akan selalu muncul, karena manusia tidak akan terlepas dari hawa nafsunya.
Selain sebab-sebab yang muncul dari peristiwa nikah-cerai dalam kaitannya dengan masyarakat, ternyata terdapat pula hasrat atau keinginan yang ingin dicapai sehingga nikah-cerai itu terjadi. Dalam naskah “Barabah” diceritakan mengenai hasrat Banio melakukan beberapa kali pernikahan yang berujung perceraian. Tergambar dalam naskah hasrat banio yang ingin mempunyai seorang anak laki-laki yang belum juga tercapai selama pernikahannya terdahulu. Baru pada pernikahannya yang kedua belas Banio diceritakan akan mendapatkan seorang anak laki-laki dari Barabah istri kedua belasnya. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.
BANIO : Bodoh. Jawatan Penerangan Kabupaten. Orang-orang sekarang terlalu sibuk, sebab dunia mau kiamat, sehingga memanggil walikota dengan sebutan walkot saja, tadi aku membaca koran dunia akan kiamat. Aku benci sama tukang ramal itu. Mereka-mereka pembohong-pembohong. Tapi aku percaya seperti sekali waktu aku akan mati. Tapi aku belum mau mati sebelum aku mempunyai anak laki-laki. (BARABAH TERSENYUM SAMBIL MEMEGANG PERUTNYA, SEPERTI ADA YANG BERGERAK DALAM PERUTNYA) Kenapa kau tersenyum sendiri. Gila !! Atau kau mau tertawakan saja, dari sebelas perempuan yang kukawini, aku tidak pernah punya anak laki-laki. Kau tahu, aku dulu ahli penabuh genderang sehingga aku pernah bermimpi punya anak laki-laki yang pintar menabuh genderang, drum-tam-tam-drum-tam-tam berjalan berkeliling kota dalam barisan dengan terompet tot-tit-tet-drum-tam-drum-tam. He, Barabah masih kau simpan juga tambur itu?
Pada kutipan di atas tergambar mengenai hasrat Banio yang ingin memiliki anak laki-laki sebelum dirinya meninggal dunia. Jika dihubungkan dengan kejadian di masyarakat, tidak sedikit memang hasrat seseorang yang ingin menikah yaitu ingin memiliki keturunan yang diinginkan etah itu berjenis klamin pria ataupun wanita. Tidak sedikit peristiwa di masyarakat ketika minikah sudah cukup lama, belum juga dikarunia seorang anak satu pun. Berbagai hal dilakukan, sampai-sampai ada yang memutuskan untuk bercerai dengan pasangannya, karena menganggap pasangannya tidak dapat menghasilkan keturunan (mandul). Jalan satu-satunya yang harus ditempuh adalah dengan menikah lagi. Hal tersebut mungkin sering kita lihat di kehidupan masyarakat. Sama halnya dengan cerita pada naskah drama “Barabah”, yang juga mempermasalahkan keturunan sebagai alasan untuk melakukan kawin-cerai.
Pada dasaranya kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat sangatlah mempengaruhi larihnya sebuah karya. Para pengarang biasanya memiliki pengalaman empiris dalam kehidupan sosialnya, dan seketikan itu pula tidak jarang para pengarang atau sastrawan menuangkan pengalamannya tersebut dalam sebauh karya sastra. Suatu karya sastra memang selalu erat kaitannya dengan kejadian sosial di masyarakat. Seperti yang tergambar pada cerita dalam naskah drama “Barabah” karya Motinggo Busye, yang ceritanya memang berkaitan dengan kehidupan sosial di masyarakat.
Simpulan
Dari naskah drama Barabah didapatkan beberapa factor penyebab peristiwa nikah-cerai tersebut terjadi, seperti faktor ketidakcocokan dengan pasangan sebelumnya, faktor keturunan, dan lain sebagainya. Hal tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial di masyarakat, yang memang peristiwa kawin-cerai tersebut sudah menjadi hal biasa terjadi dalam masyarakat, dan faktor-faktor penyebabnya pun tidak jauh berbeda seperti faktor keturunan, dan ketidak cocokan dengan pasangan. Karya sastra memang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sosial di masyarakat. Seakan sudah menjadi suatu pondasi yang kokoh, keduanya saling membaur mencipkakan daya tarik bagi penikmatnya.
Daftar Pustaka
Damono, Sapardi.2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Ratna, Nyoman Kutha.2003. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
[1] Makalah ini disusun sebagai salah satu persyaratan akademik dalam menempuh perkuliahan dan kelulusan mata kuliah Kajian Drama Indonesia yang diampu oleh Rudi Adi Nugroho, M.Pd.
[2] Penulis adalah mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Program Sarjana UPI Angkatan 2010 dengan NIM 1005105
Comments
Post a Comment