ALIRAN TRANSFORMASI
Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan.
Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz, Allen, van Buren, R. D. King, R.A. Jacobs, J. Green, dll.
Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi.
Ciri-ciri Aliran Transformasi
1. Berdasarkan faham mentalistik.
Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.
2. Bahasa merupakan innate
Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)
3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.
4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
6. Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif
Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.
7. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.
8. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.
9. Gramatikal bersifat generatif.
Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).
Keunggulan Aliran Transformasi
a. Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.
b. Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)
c. Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.
d. Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.
e. dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.
Kelemahan Aliran Transformasi
a. Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat
b. Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.
c. Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structure
Aliran transformasi pasti tidak pernah lepas dari nama Avram Noam Chomsky. Professor linguistik dari Institut teknologi Massachusetts yang lahir di Philadelphia, Amerika Serikat pada tanggal 7 Desember 1928 tersebut, dikenal sebagai penggagas aliran transformasi. Dalam bukunya yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, Chomsky mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia disebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan.
Pelopor aliran ini adalah N. Chomsky dengan karyanya “Syntactic Structure”(1957) dan diikuti oleh tokoh-tokoh seperti Postal, Fodor, Hale, Palmatier, Lyons, Katz, Allen, van Buren, R. D. King, R.A. Jacobs, J. Green, dll.
Aliran ini pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi.
Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. .Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :
1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Kemudian disusul dengan dengan terbitnya buku yang berjudul aspect of the theory of syntax, dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory.
Dari kesimpulan tersebut terdiri dari 3 komponen :
1. komponen sintetik
2. komponen semantik
3. komponen fologis
Aliran ini muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. Transformasi pada mulanya hanya berbicara transformasi pada level kalimat tetapi kemudian diterapkan dalam tataran lain seperti morfologi dan fonologi. Konsep language dan paroleh dari De Sausure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. buku ini sering disebut “ Tata Bahasa Transformasi Klasik .
Menurut Judith Green dalam bukunya yang berjudul op cit, menerangkan bahwa teori Chomsky mengenai generative transformational grammer adalah yang pertama memaksa ahli-ahli psikologi untuk mempertimbangkan kembali keseluruhan pendekatan mereka terhadap studi; tingkah laku bahasa, dan memaklumkan revolusi psikolinguistik.
Ciri-ciri Aliran Transformasi1. Berdasarkan faham mentalistik.
Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.
2. Bahasa merupakan innate
Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)
3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.
4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan penegtahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
6. Penerapan kaidah bahasa bersifat kreatif
Ciri ini menentang anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum tranformasi masalah umum tidak umum bukan suatu persoalan yang terpenting adalah kaidah.
7. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.
8. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (NP) dan frase kerja (VP) kemudian dari frase turun ke kata.
9. Gramatikal bersifat generatif.
Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).
Keunggulan Aliran Transformasi
a. Proses berbahasa merupakan proses kejiwaan buakan fisik.
b. Secara tegas memisah pengetahuan kebahasaan dengan keterampilan berbahasa (linguistic competent dan linguistic performance)
c. Dapat membentuk konstruksi-konstruksi lain secara kreatif berdasarkan kaidah yang ada.
d. Dengan pembedaan kalimat inti dan transformasi telah dapat dipilah antara substansi dan perwujudan.
e. dapat menghasilkan kalimat yang tak terhingga banyaknya karena gramatiknya bersifat generatif.
Kelemahan Aliran Transformasi
a. Tidak mengakui eksistensi klausa sehingga tidak dapat memilah konsep klausa dan kalimat
b. Bahasa merupakan innate walaupun manusia memiliki innate untuk berbahasa tetapi tanpa dibiasakan atau dilatih mustahil akan bisa.
c. Setiap kebahasaan selalu dikembalikan kepada deep structure
Menjawab kekurangan aliran struktural
Dalam buku Linguistik Umum karya A. Chaedar Alwasilah, mencontohkan melalui kalimat:
1. Jhon is easy to please
2. john is eager to please
secara sintaksis kedua kalimat tersebut mempunyai struktur luar yang sama dan orang akan mengerti perbedaan makna keduanya, kalimat ini bias diungkapkan sebagai berikut:
1. Jhon is easy to please
a) It is easy to please john
b) To please john is easy
Bandingkan dengan kalimat (2) jika diungkapkan seperti a. dan b.
2. john is eager to please
a) *it is eager to please john
b) *to please john is eager
Apabila kedua kalimat tersebut dianalisis menggunakan unsure bawahan langsung yang dianut oleh kaum structural, maka diagramnya akan sama. Dengan kata lain, aliran structural tidak bisa membedakan makna kedua kalimat tadi. Tepatnya seorang tata bahasa haruslah mampu meniadakan kemenduaan makna (ambigu).
Perhatikan kalimat di bawah ini:
a) The man bit the dog
b) The dog was bitten by the man
c) The dog bit the man
Kalimat (a) sama maknanya dengan kalimat (b) dan keduanya tidak sama dengan kalimat (c), sedangkan menurut aliran struktural (a) dan (c) akan memiliki pemerian yang sama, sedangkan berbeda dengan (b). Dari kenyataan ini sudah selayaknya adanya aturan yang bias merubah satu konstruksi kalimat lalu menyusunnya kembali. Apabila membandingkan kalimat (a) dan (b) tampak ada keserasian makna dengan cara adanya perubahan dalam relasi posisi (positional relation). Maka yang kita lakukan adalah merubah posisi kata benda (nominal) kedua dan merubah kata kerja dari aktif menjadi pasif. Inilah yang oleh Chomsky disebut sebagai transformasi
Seandainya transformasi ini dianggap sebagai pengembangan, maka yang dijadikan pola dasarnya adalah kalimat dasar. Kalimat-kalimat inilah yang berfungsi sebagai penghasil kalimat-kalimat lain yang benar.
GeneratifAsal katanya yaitu to generate yang artinya adalah membangkitkan, menghasilkan, menyebabkan. Chomsky menegaskan bahwa gramatika harus seperti disiplin ilmu lain, yaitu mesti didasari dari hasil observasi dan tes empiris. Tentunya dari pengamatan itu seutuhnya dari para penutur asli. Problemnya adalah bahwa ujaran itu merupakan data yang harus ditekuni para linguis. Beruntung disini jawabanya adalah ujaran memang tak terhingga, tetapi tidak berarti bahwa gramatika pun tidak terhingga.
Disiplin gramatika tentu aturan-aturannya terbatas, tapi yang terbatas ini mampu mengendalikan dan mengontrol ujaran yang tak terhingga itu tadi, hingga ujaran-ujaran/ kalimat-kalimat yang tidak gramatik dapat disingkirkan. Gramatika pun harus menurunkan teori competence penutur bahasa, yang lalu merupakan dasar dalam memerikan bagaimana orang-orang menggunakan bahasa dalam performancenya.
Analisis Aliran Transformasi
· Menyimpulkan bahasa sebagai peggunaan simbol yang tak terhingga dengan alat yang terbatas.
· Menegaskan harus adanya aturan gramatika tertentu yang menyeluruh dan bisa menghasilkan kalimat-kalimat gramatik yang mungkin ada.
· Membedakan kalimat dasar (sederhana, aktif, pernyataan) dengan kalimat transformasi (majemuk, pasif, pernyataan).
· Menegaskan bahwa setiap orang lahir dengan dianugerahi kemampuan berbahasa (innate ability).
· Struktur dalam (deep structure) adalah struktur dasar tapi tak teramati, yang ada dalam pikiran si pembicara / penanggap tutur dan dengan competencenya mereka mentransformasikan struktur dasar tadi ke dalam struktur luar (surface structure), yaitu ujaran dan tulisan. Kalimat ujaran tersebut merupakan performancenya.
· Menganggap kegiatan bahasa sebagai tingkah laku yang dikendalikan aturan-aturan, bebas dari stimulus. Aturan-aturan ini begitu ampuh hingga membuat penutur asli mampu menyusun dan mengerti kalimat-kalimat baru yang belum pernah dibuat dan didengarnya.
· Menyatakan pentingnya pelibatsertaan makna dalam menyusun analisis gramatika bahasa.
Daftar Referensi
Alwasilah, A. Chaedar.1993.Linguistik Suatu Pengantar.Bandung:Angkasa Bandung.
Era Tata Bahasa Generatif
Chomsky sendiri menyatakan bahwa tata bahasa generatif (TG) tidak memiliki relevansi terhadap pengajaran bahasa, dan selama TG tidak tertarik akan prosedur penemuan (discovery procedures), tidak ada aspek metodologis dari TG yang dapat diimplitasikan dalam teknik pengajaran bahasa, sebagaimana metode linguistik struktural. Namun demikian banyak interes dalam pengajaran bahasa berasal dari TG yang mendasarkan pada asumsi-asumsi yang dilahirkan oleh TG.
Asumsi-asumsi ini mencakup :Pertama, bahwa guru akan memfokuskan pada pengembangan kompetensi bahasa anak daripada ke fokus pada perfomansi, walaupun kompetensi bahasa hanya dapat dikembangkan dan dinilai melalui performansinya. Asumsi ini didasari pada tujuan utama dari TG, yaitu memperoleh gambaran tentang kompetensi bahasa penutur asli. Apabila tujuan guru memfokuskan pada performansi, hal itu kadang-kadang mendatangkan hasil yang tidak menguntungkan. Siswa boleh jadi berlatih dengan pola-pola kalimat tanpa mengetahui makna apa yang dikatakannya atau tanpa menggunakan selama komunikasi yang riel. Tentu saja memang pengembangan kompetensi bahasa anak harus menjadi tujuan dalam pengajaran bahasa, bahkan sebelum munculnya TG. Pembedaan secara tegas (eksplisit) antara kompetensi dan performansi bagaimanapun menyadarkan kepada guru bahwa sejumlah performansi (baca latihan keterampilan berbahasa) yang diperoleh siswa harus diakitkan dengan tingkat pengembangan kompetensi bahasa mereka. Latihan-latihan yang intensif (performansi), tanpa menyadari makna tidak akan meningkatkan kompetensi. Dalam latihan dialog misalnya siswa memang dapat memperoleh keterampilan menghasilkan pola-pola kalimat secara sempurna dalam suatu situasi khusus. Akan tetapi kompetensi kebahasaan siswa bukan ditunjukkan oleh diperolehnya sejumlah kalimat-kalimat yang gramatikal. Kompetensi itu harus ditunjukkan oleh hanya jika siswa dapat menggunakan pola kalimat itu dalam situasi komunikasi yang riel.
Defenisi tata bahasa menurut TG yang menyatakan bahwa tata bahasa merupakan sebuah sistem kaidah yang menurunkan (menghasilkan) kalimat-kalimat gramatikal suatu bahasa, dan ide yang menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif (a creative oreativity), mengantarkan kepada asumsi kedua. Asumsi kedua ini menyatakan bahwa selama bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif, dalam tahap belajar manapun guru akan mengarahkan siswanya untuk kreatif menghasilkan ujaran-ujaran (kalimat) baru, daripada sekedar mengulang-ulang atau mengingat-ingat apa yang telah diperolehnya dalam belajar. Meskipun Chomsky mengidentifikasikan kaidah-kaidah TG dengan kompetensi penutur asli, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah ini secara sadar digunakan oleh penutur asli dalam menghasilkan ujaran (kalimat). Demikian juga, suatu kaidah tatabahasa tidak berimplikasi dalam pengajaran kaidah-kaidah bahasa. Akan tetapi sesungguhnya kaidah-kaidah itu adalah suatu deskripsi dari idealisasi pengetahuan penutur asli yang tersimpan dalam kesadaran dan kemudian dapat menolongnya menciptakan (menghasilkan) ujaran baru secara kreatif.
Informasi di atas menghantarkan kepada asumsi ketiga, yang menyatakan bahwa dalam berbagai tahap belajar bahasa kemampuan siswa untuk menciptakan ujaran-ujaran baru akan bertambah dengan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah yang menggambarkan ujaran.
Dalam teori TG seorang anak memperoleh kompetensinya dalam tahap awal dalam bahasa ibunya. Dalam setiap tahapan anak membentuk hipotesis tertentu tentang kode dan mengetesnya dengan ujaran yang didengarnya, sampai pada akhirnya anak mempelajari keseluruhan kode menurut pandangan ini ujaran anak yang menyimpang dari ujaran dewasa bukanlah suatu kesalahan (errors) melainkan suatu manifestasi dari sejenis kode yang telah dia kontrol dalam tahap yang bersangkutan. Apabila kita mengasumsikan bahwa belajar bahasa kedua sama dengan belajar bahasa pertama, kita dapat mengajukan asumsi yang lain untuk pengajaran bahasa yang berhubungan dengan ide kalimat inti (kernels) dan transformasi. Kita mengetahui bahwa ”Kernels” adalah struktur yang lebih kompleks. Informasi di atas mengantarkan kepada asumsi yang keempat, yang menyatakan bahwa guru bahasa akan menyajikan pertama-tama kalimat inti (kernels sentences), yang kemudian diikuti dengan kalimat transformasi, yang juga akan disusun agar dapat menambah kompleksitas kalimat, misalnya transformasi dari kalimat kernels pertama diikuti oleh kalimat transformasinya. Kalimat kernels kedua diikuti oleh kalimat transformasinya, dan demikian seterusnya.
Konsep TG yang lain adalah dibedakannya antara struktur batin (deep structures) dan struktur lahir (surface structures). Hal ini mengantarkan kepada asumsi kelima yang menyatakan bahwa guru bahasa tidak akan mengkombinasikan struktur lahir yang identik tetapi dari transformasi struktur batin yang berbeda, dalam satu latihan kalimat. Hal ini dikarenakan jika kepada siswa disajikan struktur-struktur yang identik akan mengalami kesulitan dalam mencari struktur batinnya.
Apabila manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk memperoleh bahasa (kemampuan bawaan untuk memperoleh bahasa), siswa mempunyai kedudukan yang penting daripada guru dalam situasi belajar. Hal ini memberikan asumsi yang keenam yang menyatakan bahwa guru akan menciptakan suasana (atmosphere) yang memungkinkan digunakannya kemampuan bawaan siswa dalam belajar secara kreatif.
PEMANFAATAN ASUMSI-ASUMSI LINGUISTIK STRUKTURAL DAN TRANSFORMASI GENERATIF DALAM PBI
Pemanfaatan akan asumsi-asumsi dua kelompok aliran linguistik di atas dalam pengajaran bahasa didasarkan pada kajian psikolinguistik. Psikolinguistik (yang dimulai dikenal sejak tahun 1951), adalah lapangan studi sebagai sebagai kombinasi (interdisipliner) antara psikologi dan linguistik. Salah satu isu yang relevan yang dapat kita angkat dari psikolinguistik dalam kaitannya dengan pemanfaatan asumsi-asumsi linguistik struktural dan transformasi generatif adalah isu tentang pemerolehan bahasa (language acquisition).
Terdapat dua teori tentang pemerolehan bahasa: teori belajar kode-kognitif (the cognitive-code learning theory), yang dihasilkan oleh TG, dan teori pembentukan kebiasaan (habit-formation theory) dari linguistik struktural.
Dalam memanfaatkan asumsi-asumsi dan model pemerolehan bahasa di atas guru harus membuat beberapa catatan pertimbangan pemanfaatan:
(1) Jika pemerolehan bahasa adalah suatu pembentukan kebiasaan (habit formation), guru bahasa harus menyusun program secara konkret. Jika hal ini yang dipilih maka beberapa kegiatan yang perlu dilakukan antara lain:
a. mintalah kepada siswa agar meniru model yang disajikan guru
b. berikan pola-pola latihan (pattern drill), untuk menyatakan kebiasaan bertingkah laku (habit of behaviour)
c. berikan kepada siswa penguatan (reinforcement) untuk respons (jawaban) yang benar dan kurangi (hilangkan, eliminate) respons yang salah, dan
d. biarkan siswa belajar secara induktif, menafsirkan kaidah-kaidah yang telah dipelajarinya.
(2) Sebaliknya apabila pemerolehan bahasa adalah belajar tentang kode (a matter of cognitive learning code), guru bahasa harus menjamin bahwa siswa mampu menginternalkan (internalized) kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat. Penjelasan mengenai struktur kalimat dan pengetahuan tentang kaidah harus ditempatkan dalam skala aturan yang luas dalam pengajaran bahasa.
Tentu saja dalam setiap teori terdapat kekuatan dan kelemahan. Kelemahan dari pembentukan kebiasaan (habit formation) antar lain adalah bahwa siswa tidak dilatih menggunakan kalimat (struktur) dalam situasi komunikasi yang aktual. Namun kekuatannya juga ada, yaitu antara lain bahwa penguasaan akan kaidah-kaidah yang dipelajari oleh siswa sangat kecil. Kelemahan dari teori belajara kode (learning code), bahwa dalam kenyataannya kaidah-kaidah (kode) bahasa itu tak terbatas jumlahnya, dan kemampuan memperoleh kalimat yang benar sangat tergantung kepada lingkungan berbahasa siswa (berbagai macam variasi, laras, dan register). Kekuatan teori ini antara lain adalah bahwa pengetahuan tentang fakta (bahasa) dan kaidah formal bahasa dapat secara nyata menolong mengarahkan siswa untuk membentuk kalimat yang baik (baku).
(3) Sehubungan dengan kelemahan dan kekuatan kedua teori belajar bahasa di atas, J.B. Carol (1971), mengajukan sintesa kedua teori belajar tersebut yang diberi nama teori pembentukan kebiasaan kognitif (cognitive code learning). Menurut teori Carol ini belajar bahasa adalah rangkaian antara latihan-latihan menguasai pola-pola dan sekaligus menciptakan kondisi belajar yang kondusif agar pola-pola itu terinternalisasikan dalam kesadaran siswa. tahap berikutnya siswa didorong untuk mampu menghasilkan kalimat baru. Internalisasi dan pembentukan kalimat baru saja, tidak cukup. Tahap berikutnya menurut Carol, siswa harus diterjunkan dalam situasi komunikasi riel seperti yang terjadi pada penutur asli.
Tiga cara pemanfaatan di atas, masih dapat didiskusikan lebih lanjut, lebih-lebih jika sudah berkaitan dengan penyusun perangkat bahan atau materi ajarnya. Namun tinjauan singkat selayang pandang ini bisa juga dipandang sebagai rambu-rambu dalam peningkatan PBI.
DAFTAR PUSTAKA
Carrol, J.B., Current Issues in Psycholinguistics and Second Language Teaching TESOL Quarterly, 1971.
Chomsky, N., Aspects of the Theory of Syntax, Cambridge, Mass. M.I.T. Press, 1965.
--------------., Linguistictheory, In Mead, Robert G (ed) Language Teaching Broader Contexts, New York. MPA Materials Centre, 1966.
Gleason, H.A., An Introduction to Descriptive Linguistics, New Yourk. Holt Rinehart and Winston, 1961.
Carrol, J.B., Current Issues in Psycholinguistics and Second Language Teaching TESOL Quarterly, 1971.
Chomsky, N., Aspects of the Theory of Syntax, Cambridge, Mass. M.I.T. Press, 1965.
--------------., Linguistictheory, In Mead, Robert G (ed) Language Teaching Broader Contexts, New York. MPA Materials Centre, 1966.
Gleason, H.A., An Introduction to Descriptive Linguistics, New Yourk. Holt Rinehart and Winston, 1961.
TRANFORMASI GENERATIF
1. Rumus Struktur Frasa
Rumus ini ialah rumus yang menulis kembali lambang-lambang bukan terminal, iaitu perkataan. Contoh-contoh rumus struktur frasa adalah seperti yang berikut:
a) A FN + FK
b) FK K + FN
c) FN N + petunjuk
d) K baca
e) Penunjuk itu
f) N budak, buku
Rumus-rumus di atas akan menerbitkan ayat Budak itu membaca buku.
Rumus ini ialah rumus yang menulis kembali lambang-lambang bukan terminal, iaitu perkataan. Contoh-contoh rumus struktur frasa adalah seperti yang berikut:
a) A FN + FK
b) FK K + FN
c) FN N + petunjuk
d) K baca
e) Penunjuk itu
f) N budak, buku
Rumus-rumus di atas akan menerbitkan ayat Budak itu membaca buku.
2. Rumus-rumus Transformasi
Rumus ini mengambil ayat yang dihasilkan oleh rumus struktur frasa seperti yang terdapat dalam rumus di atas sebagai input dan memindahkan, menggugurkan, dan menyambungkan unsur-unsur tertentu dalam ayat tadi.. Berbeza dengan rumus struktur frasa yang mempunyai susunan yang bebas, rumus-rumus transformasi disusun mengikut susunan tertentu. Susunan ini penting untuk menghasilkan ayat-ayat yang gramatis. Rumus transformasi dianggap penting untuk memperlihatkan hubungan sintaksis yang terdapat di antara dua struktur yang berbeza, misalnya antara ayat aktif dengan ayat pasif yang berkut:
Rumus ini mengambil ayat yang dihasilkan oleh rumus struktur frasa seperti yang terdapat dalam rumus di atas sebagai input dan memindahkan, menggugurkan, dan menyambungkan unsur-unsur tertentu dalam ayat tadi.. Berbeza dengan rumus struktur frasa yang mempunyai susunan yang bebas, rumus-rumus transformasi disusun mengikut susunan tertentu. Susunan ini penting untuk menghasilkan ayat-ayat yang gramatis. Rumus transformasi dianggap penting untuk memperlihatkan hubungan sintaksis yang terdapat di antara dua struktur yang berbeza, misalnya antara ayat aktif dengan ayat pasif yang berkut:
1. a) Ahmad membaca buku itu.
b) Buku itu dibaca oleh Ahmad.
2. a) Kucing mengejar tikus.
b) Tikus dikejar oleh kucing.
b) Buku itu dibaca oleh Ahmad.
2. a) Kucing mengejar tikus.
b) Tikus dikejar oleh kucing.
Secara kasar rumus pasifnmengatakan bahawa :
Sekiranya A 1 merupakan ayat gramatis yang berbentuk FN 1–Kb –K – FN 2 maka urutan yang berbentuk FN – Kb –K – oleh + FN 1 yang dihasilkan daripadanya juga merupakan ayat gramatis.
Antara alasan yang dikemukakan untuk menunjukkan bahawa ayat pasif diterbitkan daripada ayat aktif ialah hampir semua ayat aktif mempunyai ayat pasifnya. Juga dengan menganggap ayat pasif sebagai transformasi daripada ayat aktif, kita tidak perlu menyatakan syarat-syarat sesuatu frasa nama
Antara alasan yang dikemukakan untuk menunjukkan bahawa ayat pasif diterbitkan daripada ayat aktif ialah hampir semua ayat aktif mempunyai ayat pasifnya. Juga dengan menganggap ayat pasif sebagai transformasi daripada ayat aktif, kita tidak perlu menyatakan syarat-syarat sesuatu frasa nama berulang-ulang. Kita hanya perlu menyatakannya sekali dalam ayat aktif dan syarat ini dikekalkan dalam ayat pasifnya. Contoh :
3 a) Rosnah minum air
b) Air diminum oleh Rosnah.
4 a)* Baju mencuci saya
b)* Saya dicuci oleh baju.
Transformasi pasif ini dinamakan transformasi opsional atau pilihan kerana ia tidak semestinya berlaku. Kita mempunyai pilihan sama ada untuk mengaplikasikannya atau tidak. Kalau tidak mahu mengaplikasikannya, kita masih dapat ayat yang gramatis. Ini berbeza dengan apa yang dikenal sebagai transformasi wajib iaitu transformasi yang mesti berlaku untuk membentuk ayat yang gramatis. Kalau transformasi wajib tidak diaplikasikan hasilnya ialah ayat yang tidak gramatis. Ayat 5 dan 6 merupakan ayat yang tidak gramatis kerana transformasi yang menambahkan imbuhan yang sesuai adalah transformasi wajib dalam bahasa Melayu.
5 * Dia mencerita perkara itu kepada saya.
6 * Ini menunjuk bahawa perkara itu tidak benar.
Contoh-contoh transformasi yang lain termasuklah penerbitan ayat tanya, ayat negatif, dan sebagainya.
Sekiranya A 1 merupakan ayat gramatis yang berbentuk FN 1–Kb –K – FN 2 maka urutan yang berbentuk FN – Kb –K – oleh + FN 1 yang dihasilkan daripadanya juga merupakan ayat gramatis.
Antara alasan yang dikemukakan untuk menunjukkan bahawa ayat pasif diterbitkan daripada ayat aktif ialah hampir semua ayat aktif mempunyai ayat pasifnya. Juga dengan menganggap ayat pasif sebagai transformasi daripada ayat aktif, kita tidak perlu menyatakan syarat-syarat sesuatu frasa nama
Antara alasan yang dikemukakan untuk menunjukkan bahawa ayat pasif diterbitkan daripada ayat aktif ialah hampir semua ayat aktif mempunyai ayat pasifnya. Juga dengan menganggap ayat pasif sebagai transformasi daripada ayat aktif, kita tidak perlu menyatakan syarat-syarat sesuatu frasa nama berulang-ulang. Kita hanya perlu menyatakannya sekali dalam ayat aktif dan syarat ini dikekalkan dalam ayat pasifnya. Contoh :
3 a) Rosnah minum air
b) Air diminum oleh Rosnah.
4 a)* Baju mencuci saya
b)* Saya dicuci oleh baju.
Transformasi pasif ini dinamakan transformasi opsional atau pilihan kerana ia tidak semestinya berlaku. Kita mempunyai pilihan sama ada untuk mengaplikasikannya atau tidak. Kalau tidak mahu mengaplikasikannya, kita masih dapat ayat yang gramatis. Ini berbeza dengan apa yang dikenal sebagai transformasi wajib iaitu transformasi yang mesti berlaku untuk membentuk ayat yang gramatis. Kalau transformasi wajib tidak diaplikasikan hasilnya ialah ayat yang tidak gramatis. Ayat 5 dan 6 merupakan ayat yang tidak gramatis kerana transformasi yang menambahkan imbuhan yang sesuai adalah transformasi wajib dalam bahasa Melayu.
5 * Dia mencerita perkara itu kepada saya.
6 * Ini menunjuk bahawa perkara itu tidak benar.
Contoh-contoh transformasi yang lain termasuklah penerbitan ayat tanya, ayat negatif, dan sebagainya.
CIRI-CIRI TATABAHASA TRANSFORMASI GENERATIF DARI SEGI ASPEK DAN STRUKTUR SERTA HUBUNGANNYA DENGAN PERKEMBANGAN TATABAHASA BAHASA MELAYU.
PENGASAS: AVRAM NOAH CHOMKSY
Avram Noah Chomsky (1928- ), ialah seorang ahli linguistik, pendidik, aktivis politik dan penulis Amerika Syarikat yang profilik. Beliau telah dilahir dan dibesarkan di Philadelphian, Pennsylvania. Chomsky mendapat pendidikan di Universiti Pennsylvania di mana beliau menamatkan mengajian ijazah pertamanya pada tahun 1945, pengajian sarjana pada tahun 1955 di bawah didikan Zellig Harriss seorang ahli bahasa Amerika Syarikat yang tersohor, di universiti tersebut. Dari tahun 1951sehingga tahun 1955 ketika masih lagi menjadi mahasiswa, Chomsky telah pun menjadi ‘junior fellow’ di Universiti Harvard. Beliau kemudiannya menjadi pensyarah bahasa Perancis dan bahasa Jerman di Massachusetts Institute of Technology (MIT)
dalam tahun 1955, dan seterusnya menjadi Profesor dalam bidang bahasa asing dan linguistik dalam tahun 1976 di MIT (Gale Encyclopedia of Psychology 2001). Chomsky telah mencipta dan memperkenalkan satu bidang linguistik baharu yang diberi nama tata bahasa generatif berdasarkan teori yang beliau usahakan sepanjang tahun 1950an. Beliau telah menerbitkan teori yang dipanggil tatabahasa transformasi generatif tersebut dalam bukunya yang bertajuk Syntactic Structures (1975) dan Aspects of the Theory of Syntax (1965).
CIRI-CIRI TATABAHASA TRANSFORMASI GENERATIF
Sistem tatabahasa transformasi yang diasaskan oleh Chomsky ini walaupun merupakan lanjutan daripada apa yang telah dibangunkan bersama Harris, namun terdapat perbezaan pendapat dengan apa yang telah dikemukakan oleh Harris. Ternyata sistem tatabahasa berdasarkan Chomsky ini telah menarik perhatian ramai dan telah menerima kesinambungan berterusan yang ekstensif. Chomsky seterusnya menyatakan bahawa teorinya dapat memperlihatkan ciri-ciri universal dalam mengkaji semua bahasa manusia. Menurut beliau semua bahasa yang digunakan oleh manusia adalah berasaskan peraturan yang sama. Teori transformasi generatif menyatakan bahawa ayat-ayat dalam sesuatu bahasa tidak terhad bilangannya. Walaupun tidak terhad, ayat-ayat ini terbina atas peraturan-peraturan pembentukan ayat yang terbatas bilangannya. Pembinaan ayat daripada struktur-struktur asas dikenal sebagai ayat inti yang dapat melalui proses transformasi. Ayat ini terdiri daripada subjek dan predikat yang tidak diwarnai olehsebarang suasana seperti pertanyaan, suruhan dan sebagainya.
Dalam tatabahasa transformasi generatif penentuan sama ada sesuatu ayat itu gramatis atau tidak boleh dikaitkan dengan persepsi intuisi seseorang penutur terhadap sesuatu yang disebut struktur dalaman, iaitu struktur yang sifatnya amat dasar dan menjadi asas kepada pembentukan atau penerbitan ayat-ayat lain yang lebih kompleks. Persepsi yang dimaksudkan ini memungkinkan seseorang penutur mengenali sesuatu ayat yang mempunyai persamaan makna dengan suatu ayat yang lain, atau dengan kata lain, ia dapat mengenal pasti ayat-ayat yang berparafrasa.
Oleh yang demikian, tatabahasa transformasi generatif melihat ayat sebagai mengandungi dua peringkat. Pertama, peringkat struktur dalaman, iaitu struktur yang biasanya mengandungi bentuk ayat dasar atau ayat inti yang diperlukan untuk membentuk asas makna ayat, atau dengan kata lain membentuk semantik ayat. Kedua, peringkat struktur permukaan, iaitu struktur ayat yang biasanya telah mengalami perubahan daripada struktur dalamannya, dan merupakan bentuk ayat yang akan sebenarnya diucapkan oleh si penutur, dan yang diperlukan untuk ditafsirkan oleh bahagian bunyi bahasa yang dinamai komponen fonologi.
Chomsky berpendapat bahawa manusia memperoleh bahasa daripada dua komponen, iaitu komponen competence dan performance. Competence merupakan keupayaan manusia sejak lahir lagi untuk menguasai sejumlah peraturan yang terkandung di dalam kepala penutur. Performance pula merupakan pewujudan bahasa itu seperti yang dilihat dalam percakapan dan penulisan. Konsep competence yang dikemukakan oleh Chomsky ini lebih memberikan penekanan kepada penutur sebagai individu. Kenyataan yang berbunyi “Competence to mean knowledge about cognitive and performative” bermakna sejak lahir lagi manusia telah disediakan dengan peraturan-peraturan pembentukan ayat di dalam otaknya (Ishak Ramly 1996).
Seperti yang dikatakan dalam Syntactic Structures (1957), terdapat tiga bahagian atau komponen dalam pembentukan ayat, iaitu komponen struktur frasa, komponen transformasi dan komponen morfofonemik. Setiap daripada komponenkomponen ini mengandungi satu set peraturan yang beroperasi terhadap beberapa ‘input’ untuk menghasilkan beberapa ‘output’. Gambaran mengenai struktur frasa boleh dikaitkan secara sendirinya dengan organisasi dalam sistem yang lebih besar.
PENGUBAHSUAIAN TERHADAP SISTEM TATABAHASA CHOMSKY
Sistem tatabahasa transformasi Chomsky telah diubahsuai sedikit dalam tahun 1965. Kemungkinan pengubahsuaian yang paling penting adalah kemasukan komponen semantik ke dalam sistem tatabahasa tersebut sebagai tambahan kepada komponen sintaksis dan komponen fonologi.
Peraturan komponen sintaksis menggerakkan ayat-ayat sesuatu bahasa dan mengarahkan kepada bukan satu tetapi dua analisis berstruktur; satu analisis struktur dalaman dan satu analisis permukaan. Makna ayat dibawa daripada struktur permukaannya oleh peraturan-peraturan bagi mengaitkan bunyi sebutan sesuatu ayat kepada maksudnya. Sintaksis adalah dikedudukan “jantung” sistem itu. Asas mempunyai dua bahagian; satu set peraturan berkategori dan satu senarai perkataan dengan maknanya sekali. Dirangkumkan sekali, unsur tersebut memenuhi satu fungsi yang sama yang dipenuhi oleh peraturan-peraturan struktur frasa dalam sistem yang terdahulu. Tetapi terdapat banyak perbezaan. Semua perkataan-perkataan baru dalam bahasa dan berkaitan dengan setiap sintaksis, semantik dan maklumat berbentuk fonologi diperlukan untuk operasi pembetulan peraturan-peraturan. Maklumat ini diwakili dalam istilah yang dipanggil ‘features’
Peranan komponen berbentuk fonologi tatabahasa generatif seperti yang dinyatakan oleh Chomsky adalah untuk memberi satu “interpretasi” fonetik kepada rangkaian-rangkaian perkataan yang digerakkan oleh komponen sintaksis.
Rangkaian-rangkaian perkataan ini diwakili dalam kenyataan berbentuk fonologi dan telah disediakan dengan satu analisis struktur permukaan oleh peraturan-peraturan transformasi. Elemen fonologi yang mana pembentukan perkataan dicipta adalah segmen-segmen yang mengandungi apa yang dirujuk secara teknikal dikenali sebagaia ciri-ciri perbezaan.
Satu lagi aspek fonologi generatif ialah memerlukan sokongan sintaksis. Prinsip analisis bunyi menggunakan suara seharusnya dijalankan tanpa mengambil kira struktur tatabahasanya. Walau bagaimanapun, prinsip ini menimbulkan kontrovesi di kalangan ahli lingustik Amerika dan tidak diterima di luar Amerika.
PERKEMBANGAN TATABAHASA TRANSFORMASI GENERATIF BAHASA
MELAYU
Bahagian ini akan cuba memperlihatkan hubungan kemunculan tatabahasa
transformasi generatif terhadap perkembangan tatabahasa bahasa Melayu dengan
merujuk kepada sejumlah kandungan yang terdapat dalam buku-buku yang berikut:
1) Bahasa Melayu Syntax Some Aspects Of Its Standardization (1978), oleh Nik
Safiah Karim.
2) Pengantar Teori Sintaksis Satu Pengenalan Konsep Tatabahasa
Transformasi-Generatif (1980), oleh Arbak Othman.
3) Tatabahasa Dewan (1993), oleh Nik Safiah Karim et al.,dan
4) Binaan Dan Fungsi Perkataan Dalam Bahasa Melayu Satu Huraian Dari
Sudut Tatabahasa Generatif (1993), oleh Hashim Haji Musa.
Bahasa Malaysia Syntax Some Aspects Of Its Standardization
Buku ini merupakan antara tulisan yang membicarakan tatabahasa bahasa Melayu
menggunakan model transformasi di Malaysia. Mengandungi lapan bab yang
dibahagikan kepada dua bahagian, bahagian pertama membicarakan latar belakang
kajian sementara bahagian kedua buku tersebut membuat analisis terhadap
beberapa struktur sintaksis utama bahasa Melayu. Oleh kerana buku ini ditulis
dalam bahasa Inggeris, kertas kerja ini hanya akan menyentuh tentang tajuk-tajuk
yang dibicarakan secara ringkas sahaja. Binaan utama yang dikaji dalam buku ini
adalah:
a) The verb phrase, in particular the auxiliary construction.
b) The passive construction.
c) The relative construction.
d) The adjective construction.
e) Complementation.
f) The interrogative construction.
Setiap struktur di atas dibicarakan secara berasingan dengan mengaplikasikan
analisis transformasi standard. Menurut Nik Safiah Karim (1978) “In this study the
model used is the transformational approach initiated by Noam Chomsky, (1957 &
1965) and its subsequent development by R.A Jacobs and P.S.Rosebaun, as well as
other linguists such as C.J.Fillmore, R. Jackendoff, G. Lakoff, J.Mc Cawley and J.R.
Ross... Two major reasons for the selection of the transformational model are its
explicitness and simplicity, and its universal applicability .... According to Paul Postal,
generatif grammar combined the significant goals of traditional grammar with the
explicitness of modern grammar “to provide a description of language which can
provide the basis of an explanation of the production and understanding of
sentence.”
Pengantar Teori Sintaksis Satu Pengenalan Konsep Tatabahasa
Transformasi-Generatif
Mungkin tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa buku ini merupakan tulisan terawal
dalam bahasa Melayu yang membicarakan tentang konsep tatabahasa transformasi
generatif dengan begitu komprehensif. Buku tersebut mengandungi enam bab yang
membicarakan perkara-perkara berikut:
Bab 1 Tatabahasa Struktur Frasa
Bab 2 Struktur Dasar Ayat-Ayat
Bab 3 Struktur Batin Dan Struktur Lahir
Bab 4 Kenapa Perlunya Transformasi
Bab 5 Tatabahasa Transformasi-Generatif
Bab 6 Peranan Semantik Dalam Tatabahasa
Kertas kerja ini akan cuba memaparkan salah satu topik yang dibicarakan dalam
bab empat buku tersebut, iaitu transformasi ayat-ayat gabungan.
Menurut Arbak Othman (1980) ayat-ayat boleh diperluaskan dengan cara dua
atau lebih ayat digabungkan dengan menggunakan satu atau lebih kata
penghubung. Dalam analisa konstituen, penggabungan ayat-ayat boleh dilakukan
sama ada melalui (a) gabungan setara atau (b) gabungan tak setara.
Gabungan Setara
Gabungan setara adalah gejala hubungan antara ayat-ayat lengkap yang setara.
Dengan perkataan lain, dua atau lebih ayat dasar selapis boleh dicantumkan untuk
menghasilkan satu ayat majmuk. Gabungan ini memerlukan kata penghubung
setara seperti dan, atau, tetapi dan sebagainya. Gabungan beberapa ayat yang
setara oleh penggunaan kata penghubung setara ini dipanggil gabungan kordinasi
dalam tatabahasa ayat-ayat.
Suatu ayat akan mempunyai struktur majmuk jika struktur-struktur batinnya itu
mengandungi dua atau lebih ayat-ayat setara. Dengan perkataan lain, ayat-ayat
majmuk mempunyai struktur batin beberapa ayat yang sama jumlah konstituen yang
dihubungkan dalam struktur lahirnya. Ayat majmuk yang terbentuk dengan
menggunakan kata penghubung setara itu boleh serupa struktur yang berikut:
Ay
Ay tetapi Ay
ibu pergi ke bandar ayah bekerja di ladang
Bagi ayat majmuk yang dibentuk dengan dua frasa yang digabungkan untuk
menghasilkan satu frasa nama majmuk dapat
Linguistik Transformasional dan Aliran-aliran Sesudahnya
Orang merasa model struktural mempunyai banyak kelemahan, sehingga mencoba merevisi model struktural yang agak beda meski masih banyak persamaannya dengan model structural semula. Perubahan total terjadi dengan lahirnya linguistik transformasional.
1. Tata Bahasa Transformasi
Dalam bahasa Indonesia, tata bahasa transformasi disebut juga dengan tata bahasa generatif. Lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Stuktur pada tahun 1957.
2 Semantik Generatif
Kelompok Lakoff terkenal dengansebutan Kaum Semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasan terhadap teori guru mereka Chomsky.
Tata Bahasa Transformasi
Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar, dalam bahasa Indonesia dsebut tata bahasa transformasi atau bahasa generatif. Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah- kaidah yang tepat dan jelas.
Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata bahasa yaitu :
1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
2. tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.
Konsep language dan paroleh dari de sausure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya. Kemampuan membuat kalimat-kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa.
Dalam buku Tata Bahasa Transformasi lahur bersamaan dengan terbitnya buku Syntatic Structure tahun 1957. buku ini sering disebut “ Tata Bahasa Transformasi Klasik“. Kemudian disusul aspect of the theory of syntax dalam buku ini Chomsky menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Tahun 1965 dikenal dengan standar teori, kemudian tahun 1972 diberi nama Extended Standard Theory, tahun 1975 diberi nama Revised Extended Standard Theory. Terakhir buku ini direvisi dengan nama Government and Binding Theory.
Dari kesimpulan tersebut terdiri dari 3 komponen :
1. komponen sintetik
2. komponen semantik
3. komponen fologis
2. Semantik Generatif
Menurut semantik generatf, sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika.
Menurut teori semantik generatif, argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan; sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat , keanggotaan, dan sebagainya.
Linguistik generatif
Tata bahasa transformasi genaratif atau TGT merupakan teori linguistik yang menyatakan bahwa tujuan linguistic ialah menemukan apa yang semesta dan teratur dalam kemampuan manusia untuk memahami dan menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal. Kalimat dianggap sebagai satuan dasar, dan hubungan antara unsur-unsur dalam struktur kalimat diuraikan atas abstraksi yang disebut kaidah struktur frase dan kaidah transformasi (Kridalaksana, 1993,69).
Linguistik generatif atau lebih dikenal linguistik transformasional dipelopori oleh Noam Chomsky.Chomsky berusaha memperlihatkan bahwa bahasa manusia tidak bisa diteliti semata-mata dalam lingkup stimulus dan respons yang tampak atau hanya berdasarkan volume data mentahyang dikumpulkan oleh peneliti lapangan. Linguis generatif tertarik tak hanya pada urusan mendeskripsikan bahasa (mencapai tingkat kecukupan deskriptif) tetapi juga berupaya ,mencapai tingkat kecukupan eksplanatoris dalam studi bahasa; inilah “basis utama,yang bersifat independent pada bahasa apa pun,untuk memilih tata bahasa yang memadai tata bahasa yang memadai secara deskiptif. (Chomsky dalam Brown,1997:11)
Buku Noam Choamsky berjudul syntactic structure terbit tahun 1957 kemudian disempurnakan dengan bukunya yang berjudul Aspect of the theory of syntax pada tahun 1965.Menurut Choamsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari tata bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna. Kalau begitu,tugas tata bahasa haruslah dapat menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas.
Setiap tata bahasa menurut Chomsky merupakan teori dari bahasa itu sendiri.ada pun tata bahasa haruslah memenuhi syarat sebagai berikut :
Pertama, kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa tersebut harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat –buat. Kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan istilah yang digunakan tidak berdasarkan gejala bahasa tertentu saja,dan semuanya ini harus sejajar dengan linguistik tertentu (chaer,2003:364)
Dalam buku Aspect of the theory of syntax Chomsky menjelaskan perubahan dalam trasformasi generatif yaitu sebagai berikut.
1. Komponen semantis suatu deskriptif linguistik berbentuk seperangkat kaidah interpretatif yang beroperasi pada sintaksis kalimat-kalimat kaidah ini agak mirip dengan kaidah fonologis.
2. Ada pembedaan antara struktur lahir dan batin.struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para srukturralis langsung diabstrakkan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang berbeda tetapi dengan diakuinya struktur tersebut maka tersedia sistem yang lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbale balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa yang alami.
3. Disribusi dari elemen-elemen sintaksis diubah secara bertahap yang memperkaya struktur frase atau struktur batin dengan mengorbankan kaidah trasformasi. Selanjutnya,trasformasi dikendalikan oleh struktur batin,dan kemudian dikemukakan bahwa trasformasi itu sendiri tidak mempunyai pengaruh terhadap makna kalimat. Kategori seperti negasi,pasif,pertanyaan,dan perintah seta hubungan subordinat dan koornidat secara formal diperkenalkan sebagai bagian dari kaidah trasformasi. Kaidah-kaidah ini kemudian dimasukkan kedalam komponen dasar yang mengatur struktur batin dan leksikon bersama-sama dengan subkategorisasi nomina dan verba menjadi subkelas seperti nomina takterbilang dan nomina terbilang,verba transitif dan verba intransifif.
Perkembangan trasformasi generatif
Sejak tahun 1957 Chomsky telah memprakarsai dan membuat suatu suatu revolusi dalam linguistik teoritik berkenan dengan cara meneliti bahasa dan berkenaan dengan tujuan yang harus dicapai dengan linguistik itu sendiri.dalam periode itu Chomsky tidak sendirian.Inovasi teoritis lain telah diajukan. Beberapa diantaranya langsung berakar dari cara Chomsky merumuskan teorinya,dan yang lainnya merupakan hasil usaha yang mengembangkan cara-cara yang berbeda untuk memahami dan menganalisis bahasa. Perkembangan yang paling penting dalam teori linguistic dan dalam praktik linguistic terkait tidak bias dikatakan ada kesamaan yang positif dari teori-teori ini,karena kesemuanya mempunyai konsep-konsep dasar dan kerangka analisis yang sangat berbeda . Namun secara negatif ,semua teori itu sepaham bahwa linguistik stukturalis kurang mendalam dan,memberikan sumbangan pada bidang linguistik dan pada pemahaman kita pada bidang bahasa melalui pembatasan terhadap apa yang dapat diterima sebagai data linguistis dengan prosedur yang secara ilmiah dapat ditempuh,linguistic strukturalis sengaja mengabaikan banyak hal yang telah dan harus menjadi minat linguis yang dengan serius mengkaji bahasa.
Menjelang dasawarsa tujuhpuluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky,antara lain Postal,Lakof,Mc Cawly, dan Kiparsky sebagai reaksi terhadap Chomsky memisahkan diri dari kelompok Chomsky,dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakof ini terkenal dengan sebutan kaum semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasa terhadap teori Chomsky,yang menyatakan bahwa semantik mempunyai ekssistensi yang lain dari sintaksis dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori generatif semantik struktrur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen,dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Tidak perlu dengan batuan kaidah lain yakni kaidah sintaksis dasar,kaidah proyeksi, dan kaidah fonologi,seperti yang diajarkan Chomsky. Sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi.
Menjelang dasawarsa tujuhpuluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky,antara lain Postal,Lakof,Mc Cawly, dan Kiparsky sebagai reaksi terhadap Chomsky memisahkan diri dari kelompok Chomsky,dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakof ini terkenal dengan sebutan kaum semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasa terhadap teori Chomsky,yang menyatakan bahwa semantik mempunyai ekssistensi yang lain dari sintaksis dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori generatif semantik struktrur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen,dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Tidak perlu dengan batuan kaidah lain yakni kaidah sintaksis dasar,kaidah proyeksi, dan kaidah fonologi,seperti yang diajarkan Chomsky. Sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi.
Prinsip-prinsip Dasar Tatabahasa Transformasi Gegeratif.
TGT bertolak dari hakekat pengetahuan linguistik yang dimiliki oleh penutur asli bahasa. TGT menetapkan pengetahuan linguistik dengan bantuan aturan-aturan "generatif" dan "transformasional" yang sekaligus merupakan petunjuk untuk menyusun dan menginterpretasi kalimat-kalimat-yang terbentuk secara gramatikal dan balk. Tata bahasa menetapkan suatu tuturan gramatikal jika dapat terbangun hubungan yang tepat antara tuturan tersebut dan beberapa kombinasi simbol-simbol yang dihasilkan oleh aturan'tata bahasa. Dalam membangun aturan-aturan, penganut TGT berpegang pada 'cara deduksi dan intuisi penutur asli (Kaseng, 1989:114).
Pada tahap awal, gramatika dalam aliran ini, dijelaskan dengan kaidah-kaidah. Kaidah-kaidah mendahului elemen dan struktur, karena kaidah mendahului elemen dan struktur. Kaidah pertama dimulai dengan membagi atau menjabarkan K(alimat) menjadi F(rase) V(erbal). Setiap elemen berikutnya bias dijabarkan dengan kaidah-kaidah lain. K merupakan satu-satunya elemen yang tampil sebagai masukan bagi suatu kaidah tanpa pernah menjadi keluaran bagi kaidah sebelumnya.
Perangkat kaidah yang pertama adalah kaidah S(truktur)F(rase). Dalam struktur frase, satuan sintaksis terbesar , yaitu K(alimat),melalui penerapan kaidah-kaidah, diperluas menjadi untaian (struktur) satuan-satuan yang lebih kecil, dan berakhir dengan suatu kombinasi antara unsure leksikal dan elemen gramatikal. Teori ini menyerupai analisis konstituen terdekat.
Definisi tata bahasa menurut TG dapat dijelaskan bahwa tata bahasa merupakan sebuah sistem kaidah yang menurunkan (menghasilkan) kalimat-kalimat gramatikal suatu bahasa, dan ide yang menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif (a creative oreativity), mengantarkan kepada asumsi kedua. Asumsi kedua ini menyatakan bahwa selama bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif, dalam tahap belajar manapun guru akan mengarahkan siswanya untuk kreatif menghasilkan ujaran-ujaran (kalimat) baru, daripada sekedar mengulang-ulang atau mengingat-ingat apa yang telah diperolehnya dalam belajar. Meskipun Chomsky mengidentifikasikan kaidah-kaidah TG dengan kompetensi penutur asli, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah ini secara sadar digunakan oleh penutur asli dalam menghasilkan ujaran (kalimat). Demikian juga, suatu kaidah tatabahasa tidak berimplikasi dalam pengajaran kaidah-kaidah bahasa. Akan tetapi sesungguhnya kaidah-kaidah itu adalah suatu deskripsi dari idealisasi pengetahuan penutur asli yang tersimpan dalam kesadaran dan kemudian dapat menolongnya menciptakan (menghasilkan) ujaran baru secara kreatif.
Informasi di atas menghantarkan kepada asumsi ketiga, yang menyatakan bahwa dalam berbagai tahap belajar bahasa kemampuan siswa untuk menciptakan ujaran-ujaran baru akan bertambah dengan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah yang menggambarkan ujaran.
Seperti halnya konsep langue dan parole dari de Saussure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan perbuatan berbahasa/ performa (performance) . Kompetensi merujuk pada pengetahuan dasar seseorang tentang sistem, kejadian, atau fakta atau dapat dikatakan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan mendasar mengenai system bahasa--kaidah-kaidah tata bahasanya, kosakatanya, seluruh pernak-pernik bahasa dan bagaimana menggunakannya secara padu (Brown, 2007:39). Adapun performa adalah manifestasi yang konkret dan bias diamati sebagai realisasi dari kompetensi. Performa merupakan produksi actual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) terhadap peristiwa-peristiwa linguistik. Chomsky mencontohkan kompetensi dengan pembicara-pendengar “ideal” yang tidak memperlihatkan hambatan variabel-variabel performa seperti keterbatasan memori, kekacauan, pergeseran, perhatian dan minat, kesalahan, dan fenomena keraguan seperti pengulangan, ketersendatan, jeda, penghilangan, dan penambahan. Inti gahasan Chomsky mengenai hal ini adalah bahwa sebuah teori bahasa merupakan teori kompetensi tidak per;lu memilah-milah sedemikian banyak variable performa yang tidak mencerminkan kemampuan linguistik dasar pembicara-pendengar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam tata bahasa generatif ini yang menjadi objeknya adalah kemampuan atau kompetensi, meskipun performa juga penting; dan bagi seorang peneliti bahasa focus penelitiannya adalah system kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
TGT juga membuat pembedaan antara tataran struktur batin dan struktur lahir. Struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para strukturalis langsung diabstraksikan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang lebih berbeda. Dengan diakuinya struktur batin ini akan tersedia sistem yang jauh lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbal balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa alami.
Dengan kata lain dapat dijelaskan sebagai berikut. Ada dua tataran atau stuktur dalam TGT yakni tataran batin atau lapis batin (deep structure) dan struktur lahir (surface structure). Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin. Hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai berikut.
Model Transformasional Perangkat Bahasa
Sintaksis
Kaidah SF
Kaidah Transformasi
Dasar
Stuktur batin Struktur lahir
Komponen semantic Komponen fonologis
Penafsiran semantic Penafsiran fonetis
Struktur dalam terdiri atas komponen dasar (base component) yang selanjutnya terbagi pula atas struktur frase dan aturan penyisipan leksikal (lexical insertion atau sub-categoriza¬tion). Ditambah lagi, komponen dasar ini memiliki leksikon dan kom¬ponen semantik yang menentukan arti bagi aturan-aturan struktur frase clan penyisipan leksikal. Struktur permukaan_terdiri atas kom¬ponen fonologik yang menentukan untaian pengucapan. Kedua tingkat ini dihubungkan oleh kaidah tranformasi. Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut pada analisis kalimat.
Tokoh transformasi generatif di Indonesia
Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Chomsky yakni teori transformasi generatif gemanya di Indonesia pada akhir tahun Lima puluhan. Pendidikan formal linguistic fakultas sastra dan pendidikan guru sampai akhir tahun 50an masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Perkenalan konsep-konsep linguistic modern terjadi sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika yaitu Anton M. Moelyono dan T.W. Kamil. Gorys keraf, Harrimukti Kridalaksana Merekalah yang pertama-tama memperkanalkan konsep-konsep fonem,morfem dan klausa. Sebelumnya konsep-konep tersebut belum dikenal sebagai satuan lingual. Yang dikenal hanyalah satuan lingual.
Konsep linguistik modern sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa karena konsep tata bahasa tradisional sudah mendarah daging. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep linguistic dapat diterima dan konsep linguistic tradisional agak tersisih. Awal tahun 70an dengan terbitnya buku tata bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistic modern mulai banyak terjadi.
Datangnya Prof. Verhaar, guru besar linguistic dari Belanda, yang kemudian disusul dengan adanya kerja sama kebahasan Indonesia-Belanda, menjadikan studi linguistic terhadap bahasa-bahasa daerah dan bahasa nasional Indonesia semakin marak. Sejalan dengan hal tersebut pada tanggal 15 november tahun 1975 atas prakarsa linguis senior maka berdirilah organisasi Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). MLI mengadakan musyawarah nasional 3 tahun sekali.mulai tahun 1983 menerbitkan jurnal yang diberi nama Linguistik Indonesia. Jurnal ini dimaksudkan sebagai wadah bagi para anggota MLI untuk melaporkan atau mempublikasikan hasil penelitianya.
Terapan Umum Tata Bahasa Trasformasi Generatif
Dalam teori TG, seorang anak memperoleh kompetensinya dalam tahap awal dalam bahasa ibunya. Dalam setiap tahapan anak membentuk hipotesis tertentu tentang kode dan mengetesnya dengan ujaran yang didengarnya, sampai pada akhirnya anak mempelajari keseluruhan kode. Menurut pandangan ini ujaran anak yang menyimpang dari ujaran dewasa bukanlah suatu kesalahan (errors) melainkan suatu manifestasi dari sejenis kode yang telah dia kontrol dalam tahap yang bersangkutan. Apabila kita mengasumsikan bahwa belajar bahasa kedua sama dengan belajar bahasa pertama, kita dapat mengajukan asumsi yang lain untuk pengajaran bahasa yang berhubungan dengan ide kalimat inti (kernels) dan transformasi. Kita mengetahui bahwa ”Kernels” adalah struktur yang lebih kompleks.
Kernels atau kalimat inti adalah kalimat deklaratif yang tidak bermakna ganda dan terdapat dalam struktur dalam (deep structure); sedangkan kalimat transformasi adalah semua tipe kalimat yang diturunkan dari kalimat inti dengan bantuan /hasil kerja kaidah transformasi. Contoh kalimat ‘The boys watced the game’ dapat ditransformasikan menjadi kalimat pasif ‘The game was watched by the boys’. Adapun analisis struktur frase (perumusan awal TGT) adalah sebagai berikut.
• Analisis Kernels atau Komponen Dasar
K
FN FV
Art Nj
V FN
V pang lamp art N
The boy s wacth ed the game
Keterangan :
K : Kalimat; FN : Frase Nomina ; FV : Frase Verba ; Art : Artikel; Nj : Nomina jamak; Vpang : Verba pangkal; Lamp : lampau (Penanda lampau)
• Analisis Komponen Transformasional
K
FN FV
V FP
P FN
The game was watched by the boys
Salah satu versi terakhir dari gramatika generatif Chomsky dikenal sebagai teori penguasaan (government) dan pengikatan (binding). Istilah penguasaan merupakan perluasan dari pemakaian tradisional kata tersebut dalam gramatika. Kata-kata yang menguasai menentukan kasus bagi nomina, frase nomina, pronominal, yang mempunyai hubungan sistaksis khusus dengan kata-kata tersebut. Sedangkan pengikatan atau binding menyangkut hubungan antara anaphora dan pronominal dengan antesedennya. Anafora mengacu pada hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutka sebelumnya dalam kalimat atau wacana ( yang disebut anteseden) (Kridalaksana,1993: 14).
Analisis Kalimat dalam TGT
Bagian ini menguraikan analisis kalimat menggunakan kaidah komponen dasar, kaidah transformasional dan semantic genaratif.
A. Komponen dasar
Kaidah komponen dasar menurunkan kalimat-kalimat inti. Terdapat dua tipe kaidah dalam hal ini, yakni kaidah struktur frase dan kaidah penyisipan leksikal (Kaseng, 1989: 120). Kaidah struktur frase (SF) memiliki tipe seperti analisis bawahan langsung dalam tata bahasa struktural. Contoh kalimat “Ibu membaca buku” dapat dianalisis sebagai berikut.
K
FN FV
N 1
V FN (N2) Ibu membaca buku
B. Komponen transformasional
Kaidah transformasional bekerja dalam kalimat inti yang diturunkan dari komponen dasar. Dalam versi standar TGT, kaidah transformasional mempertahankan arti. Artinya, kaidah pengubahan kalimat inti ke struktur permukaan tanpa mengubah arti.
Terdapat tiga jenis proses transformasional yaitu penambahan, penghilangan, dan transposisi (addition, deletion, transposition). Contoh pengubahan adalah mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Kalimat “ Ibu membaca buku.” bisa diubah menjadi “Buku dibaca (oleh) ibu.” Analisisnya sama dengan komponen dasar yang dibalik.
K
FN FV
N 2
V FN (N1) Buku dibaca (oleh) ibu
Kalimat “ Buku dibaca oleh ibu” ataupun “Buku dibaca ibu” dikenal oleh penutur asli sebagai dua kalimat yang sama. Dalam kaidah transformasi dapat dikatakan kalimat kedua melepas (menghilangkan) kata oleh .
Semantik generatif
Semantik generatif seperti yang diurakan dalam subbab 2 makalaha ini, merupakan pengembangan dari murid-murid dan pengikut Chomsky. Kelompok Lakoff dikenal dengan sebutan kaum semantik generatif . Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argument dalam proposisi. Struktur logika itu dapat digambarkan sebagai berikut.
Proposisi
Predikat Argumen1… Argumen n
Contoh kalimat “Ibu membaca buku” mempunyai struktur
Prop
Pred Arg1 Arg2
membaca Ibu buku
Atau dapat dirumuskan sebagai : Membaca (ibu, buku); Pred (Arg1,Arg2). Jadi proposisi kalimat itu berargumen
GENERATIVE GRAMMAR
Dalam linguistik teoretis, tata bahasa generatif mengacu pada pendekatan khusus untuk mempelajari sintaks. Sebuah tata bahasa generatif bahasa mencoba untuk memberikan seperangkat aturan yang benar akan memprediksi kombinasi kata akan membentuk kalimat gramatikal. Dalam pendekatan yang paling untuk tata bahasa generatif, aturan juga akan memprediksi morfologi kalimat.
Tata bahasa generatif berasal dari karya Noam Chomsky, yang dimulai pada akhir 1950-an. Versi awal teori Chomsky disebut tata bahasa transformasional, dan istilah ini masih digunakan sebagai istilah kolektif yang mencakup teori berikutnya nya. Ada sejumlah versi bersaing tata bahasa generatif saat ini dipraktekkan dalam linguistik. Teori saat Chomsky dikenal sebagai Program Minimalis. Teori terkemuka lainnya termasuk atau telah memasukkan frase kepala-driven struktur tata bahasa, tata bahasa fungsional leksikal, tata bahasa categorial, tata bahasa relasional, dan tata bahasa pohon-sebelah.
Chomsky berpendapat bahwa banyak properti dari tata bahasa generatif timbul dari suatu tata bahasa "bawaan" universal. Pendukung tata bahasa generatif berpendapat bahwa tata bahasa sebagian besar bukan hasil dari fungsi komunikatif dan tidak hanya belajar dari lingkungan (lihat kemiskinan argumen stimulus). Dalam hal ini, tata bahasa generatif mengambil sudut pandang yang berbeda dari tata bahasa kognitif, fungsional dan teori-teori behavioris.
Kebanyakan versi tata bahasa generatif ciri kalimat sebagai tata bahasa yang benar (juga dikenal sebagai terbentuk dengan baik) atau tidak. Aturan tata bahasa generatif biasanya berfungsi sebagai sebuah algoritma untuk memprediksi grammaticality sebagai diskrit (ya-atau-tidak) hasil. Dalam hal ini, ini berbeda dari tata bahasa stokastik yang menganggap grammaticality sebagai variabel probabilistik. Namun, beberapa pekerjaan dalam tata bahasa generatif (misalnya karya terbaru oleh Joan Bresnan) menggunakan versi stokastik teori optimal.
Tata bahasa generatif berasal dari karya Noam Chomsky, yang dimulai pada akhir 1950-an. Versi awal teori Chomsky disebut tata bahasa transformasional, dan istilah ini masih digunakan sebagai istilah kolektif yang mencakup teori berikutnya nya. Ada sejumlah versi bersaing tata bahasa generatif saat ini dipraktekkan dalam linguistik. Teori saat Chomsky dikenal sebagai Program Minimalis. Teori terkemuka lainnya termasuk atau telah memasukkan frase kepala-driven struktur tata bahasa, tata bahasa fungsional leksikal, tata bahasa categorial, tata bahasa relasional, dan tata bahasa pohon-sebelah.
Chomsky berpendapat bahwa banyak properti dari tata bahasa generatif timbul dari suatu tata bahasa "bawaan" universal. Pendukung tata bahasa generatif berpendapat bahwa tata bahasa sebagian besar bukan hasil dari fungsi komunikatif dan tidak hanya belajar dari lingkungan (lihat kemiskinan argumen stimulus). Dalam hal ini, tata bahasa generatif mengambil sudut pandang yang berbeda dari tata bahasa kognitif, fungsional dan teori-teori behavioris.
Kebanyakan versi tata bahasa generatif ciri kalimat sebagai tata bahasa yang benar (juga dikenal sebagai terbentuk dengan baik) atau tidak. Aturan tata bahasa generatif biasanya berfungsi sebagai sebuah algoritma untuk memprediksi grammaticality sebagai diskrit (ya-atau-tidak) hasil. Dalam hal ini, ini berbeda dari tata bahasa stokastik yang menganggap grammaticality sebagai variabel probabilistik. Namun, beberapa pekerjaan dalam tata bahasa generatif (misalnya karya terbaru oleh Joan Bresnan) menggunakan versi stokastik teori optimal.
Comments
Post a Comment